Berjabat Tangan dengan Perempuan Bukan Muhrim


PERTANYAAN : Di salah satu lembaga sekolah Muhammadiyah ada yang melakukan berjabat tangan antara guru laki-laki dengan siswa perempuan. Bagaimana sebenarnya hukumnya?

JAWABAN:
Terima kasih atas pertanyaan yang disampaikan ke redaksi majalah mentari, semoga pertanyaan tersebut sekaligus memberi masukan untuk kita tindaklanjuti. Sebelum menjawab pertanyaan saudara, perlu kita sampaikan bahwa sekolah Muhammadiyah merupakan salah satu amal usaha yang didirikan oleh Muhammadiyah sebagai media untuk mencapai tujuan persyarikatan, yaitu demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Untuk mendukung tujuan tersebut tentu pimpinan amal usaha harus mempunyai pemahaman yang sama dengan visi dan misi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, gerakan dakwah dan gerakan tajdid. Sehingga dalam semua langkah kegiatannya harus berpedoman kepada al-Qur’an dan al-Sunnah al-maqbulah.
Dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah pada poin 9 telah dirumuskan : “Pimpinan amal usaha Muhammadiyah harus bisa menciptakan suasana kehidupan Islami dalam amal usaha yang menjadi tanggung jawabnya dan menjadikan amal usaha yang dipimpinnya sebagai salah satu alat da’wah maka tentu saja usaha ini menjadi sangat perlu agar juga menjadi contoh dalam kehidupan bermasyarakat.”
Untuk menciptakan kehidupan Islami yang dimaksud tentu sesuai keteladalan dari Nabi Muhammad saw sebagai uswah kita dalam mengamalkan ajaran agama Islam, termasuk bagaimana rasulullah memberi contoh kaitannya dengan berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram.
Adapaun persoalan berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram, terdapat dalil-dalil al-Quran maupun al-Hadits sebagai rujukan :
1. Allah Taala berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ
Artinya : “Katakanlah kepada laki – laki yang beriman :Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya. (Q.S. An Nuur : 30).
Dalam lanjutan ayat ini, Allah juga berfirman,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
Artinya : “Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya” (Q.S. An Nuur : 31).
2. Hadits Nabi saw :
حَدَّثَنَا مَحْمُودٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَايِعُ النِّسَاءَ بِالْكَلَامِ بِهَذِهِ الْآيَةِ ) لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا ( قَالَتْ وَمَا مَسَّتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَ امْرَأَةٍ إِلَّا امْرَأَةً يَمْلِكُهَا
Artinya : “Telah menceritakan kepada kami Mahmud telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Urwah dari Aisyah radliallahu ‘anha, mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Shallallahu’alaihiwasallam membaiat wanita cukup dengan lisan (tidak berjabat tangan) dengan ayat ini; ‘Untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.’ sampai akhir (Q.S. Almumtahanah 12) kata Aisyah; Tangan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam sama sekali tidak pernah menyentuh wanita selain wanita yang beliau miliki (isterinya).” (HR. Bukhari).
3. Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha
‘Urwah bin Az Zubair berkata bahwa ‘Aisyah – istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata,
عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَتِ الْمُؤْمِنَاتُ إِذَا هَاجَرْنَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُمْتَحَنَّ بِقَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ (يَا أَيُّهَا النَّبِىُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لاَ يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلاَ يَسْرِقْنَ وَلاَ يَزْنِينَ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ. قَالَتْ عَائِشَةُ فَمَنْ أَقَرَّ بِهَذَا مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ فَقَدْ أَقَرَّ بِالْمِحْنَةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَقْرَرْنَ بِذَلِكَ مِنْ قَوْلِهِنَّ قَالَ لَهُنَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « انْطَلِقْنَ فَقَدْ بَايَعْتُكُنَّ ». وَلاَ وَاللَّهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ. غَيْرَ أَنَّهُ يُبَايِعُهُنَّ بِالْكَلاَمِ – قَالَتْ عَائِشَةُ – وَاللَّهِ مَا أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى النِّسَاءِ قَطُّ إِلاَّ بِمَا أَمَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَمَا مَسَّتْ كَفُّ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَفَّ امْرَأَةٍ قَطُّ وَكَانَ يَقُولُ لَهُنَّ إِذَا أَخَذَ عَلَيْهِنَّ « قَدْ بَايَعْتُكُنَّ (كَلاَمًا)
Artinya : “Jika wanita mukminah berhijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka diuji dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina . (Q.S. Al Mumtahanah: 12). Aisyah pun berkata, Siapa saja wanita mukminah yang mengikrarkan hal ini, maka ia berarti telah diuji. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri berkata ketika para wanita mukminah mengikrarkan yang demikian, Kalian bisa pergi karena aku sudah membaiat kalian. Namun -demi Allah- beliau sama sekali tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun. Beliau hanya membaiat para wanita dengan ucapan beliau. Aisyah berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidaklah pernah menyentuh wanita sama sekali sebagaimana yang Allah perintahkan. Tangan beliau tidaklah pernah menyentuh tangan mereka.  Ketika baiat, beliau hanya membaiat melalui ucapan dengan berkata, Aku telah membaiat kalian. (HR. Muslim no. 1866).
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ أَنَّهُ سَمِعَ مُحَمَّدَ بْنَ الْمُنْكَدِرِ قَالَ سَمِعْتُ أُمَيْمَةَ بِنْتَ رُقَيْقَةَ تَقُولُ جِئْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نِسْوَةٍ نُبَايِعُهُ فَقَالَ لَنَا فِيمَا اسْتَطَعْتُنَّ وَأَطَقْتُنَّ إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah berkata; Ibnu Munkadir mendengar Umaimah binti Ruqaiqah berkata, “Aku membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan beberapa wanita, lalu beliau mentalqin kami pada apa yang kami bisa dan mampu. Aku berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih menyayangi kita daripada diri kita. Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, baatlah kami!” Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya aku tidak menjabat tangan wanita, hanyasanya perkataanku untuk seorang wanita sebagaimana perkataanku untuk seratus wanita.” (HR. Ibnu Majah).
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ قَالَ سَمِعَ ابْنُ الْمُنْكَدِرِ أُمَيْمَةَ بِنْتَ رُقَيْقَةَ تَقُولُ بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نِسْوَةٍ فَلَقَّنَنَا فِيمَا اسْتَطَعْتُنَّ وَأَطَقْتُنَّ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَرْحَمُ مِنَّا مِنْ أَنْفُسِنَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بَايِعْنَا قَالَ إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ إِنَّمَا قَوْلِي لِامْرَأَةٍ قَوْلِي لِمِائَةِ امْرَأَةٍ
Artinya : “Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah berkata; Ibnu Munkadir mendengar Umaimah binti Ruqaiqah berkata, “Aku membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan beberapa wanita, lalu beliau mentalqin kami pada apa yang kami bisa dan mampu. Aku berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih menyayangi kita daripada diri kita. Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, baatlah kami!” Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya aku tidak menjabat tangan wanita, hanyasanya perkataanku untuk seorang wanita sebagaimana perkataanku untuk seratus wanita.” (HR. Ahmad).
Pendapat Para Ulama tentang berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, telah dikemukakan oleh para ulama :
Menurut Ulama Malikiyyah : Pendapat ulama ini mengharamkan berjabat tangan dengan wanita bukan mahram meskipun sudah tua yang laki-laki tidak akan tertarik lagi padanya. Mereka berdalil dengan dalil keumuman dalil yang menyatakan haramnya.
Menurut Ulama Syafi’iyyah : Mereka berpendapat haram bersentuhan dengan wanita bukan mahram, termasuk pula yang sudah tua. Syafi’iyah tidak membedakan antara wanita tua dan gadis. Dalam hal ini pendapat Ibnu Taimiyah juga mengharamkan berjabat tangan dengan wanita bukan mahram.
Menurut Hanafiyah dan Hambali : Bersalaman dengan wanita tua yang laki-laki tidak memiliki syahwat lagi dengannya, begitu pula  laki-laki tua dengan wanita muda, atau sesama wanita tua dan laki-laki tua, itu dibolehkan oleh ulama dengan syarat selama aman dari syahwat antara satu dan lainnya. Karena keharaman bersalaman yang mereka anggap adalah khawatir terjerumus dalam fitnah. Jika keduanya bersalaman tidak dengan syahwat, maka fitnah tidak akan muncul atau jarang.
Melihat beberapa firman Allah swt dan hadits dari Rasulullah saw serta pendapat para ulama tentang berjabat tangan, dapat disimpulkan bahwa :
Mayoritas para ulama mazhab lebih memilih mengharamkan berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.
Akibat dari berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dapat menimbulkan fitnah, maka menghindari fitnah itu lebih diutamakan dari pada mendekatinya.
Muhammadiyah merupakan persyarikatan yang berusaha mengikuti contoh dari Nabi Muhammad saw, maka dalam berakhlak dan berperilaku wajib berittiba’ kepada Nabi Muhammad saw termasuk dalam hal tidak berjabat tangan dengan perempuan yang bukan mahram.
Sebagai lembaga Amal Usaha yang didirikan oleh Muhammadiyah, sekolah-sekolah Muhammadiyah *tentu tidak seharusnya mengajarkan*, apalagi membudayakan berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram, meskipun dengan alasan antara guru dengan peserta didiknya.

Postingan Populer